" Money N You "
Pertanyaan dapat dikirimkan melalui SMS ke 08123898100, atau dialamatkan ke BPRLestari Jl. Teuku Umar 121 Denpasar, dengan menuliskan Money & You pada Amplop. Dan juga bisa di fax ke 0361-246705 attn: Money & You.
Alex P. Chandra ( BPR Lestari CEO )
Direktur Utama BPR Lestari
Pengalaman Kerja :
-1999 - Kini : Wiraswasta
-1991 - 1998 : PT. BCA
-1998 - 1998 : Pemimpin Kantor Cabang Utama
( BCA Cab. Gatsu - Denpasar )
- 1996 - 1998 Wakil Pemimpin Pemasaran & Kredit
---------------------------------------------------------

HIDUP ADALAH PILIHAN

Terima kasih atas jawaban Pak Alex pd e-mail saya.Saya setuju dg
pernyataan Pak Alex bahwa hrs menetapkan prioritas dlm setiap
kerjaan,tetapi kenyataan di Bali banyak masyarakat lokal Bali lebih
memprioritaskan kegiatan2 adat(karena takut akan sanksi adat) daripada
mengasah kemampuan utk meningkatkan daya saing di dunia kerja thd para
pendatang,sehingga banyak warga lokal Bali akhirnya berlomba-lomba
mencari kerja yg “santai” atau mengandalkan warisan orang tua utk
hidupnya.
Dari hal inilah keprihatinan saya akan daya saing masyarakat lokal
Bali muncul,karena bukan tidak mungkin Bali akan seperti Jakarta
dimana orang betawi hanya bisa menjadi “penonton” terhadap globalisasi
sektor tenaga kerja! hanya sedikit yg bisa bersaing dan sukses!
Menurut Pak Alex sudah tepatkah pilihan prioritas sebagian masyarakat
lokal Bali?dengan hanya memilih sektor pekerjaan yg “santai” daripada
bekerja keras utk ikut bersaing dengan pendatang, mendapatkan sektor
pekerjaan yg lebih mapan?

“Bayu Indrajaya” (email) bayu.indrajaya@gmail.com
______________________________________________________________

HIDUP ADALAH PILIHAN!
Mas Bayu, pertanyaan tadi sering mengusik saya. Mengapa orang dari latar pendidikan sama, status keluarga yang relatif sama kemudian nasibnya berbeda-beda.

Mengapa ada yang sukses dan ada yang gagal dan ada yang biasa-biasa saja.

Menurut saya hidup adalah pilihan. Setiap saat kita harus memilih. Makanya saya mengatakan it’s all about priority. Prioritas hidup kita akan menentukan pilihan-pilihan yang kita ambil dalam hidup kita. Setiap pilihan mengandung konsekuensi. Setiap tindakan mengandung konsekuensi.

Seorang teman saya bercerita bahwa ia sekarang memiliki 5 perusahaan. Ada perusahaan dealership sepeda motor, pabrik vulkanisir ban, kontraktor water heater untuk industri-industri, dealership sparepart motor, dan penyalur pipa-pipa untuk perusahaan minyak. Semua bisa diperolehnya karena berkongsi. Bekerja sama. “Bekerja sama berarti memperbesar kapasitas”, demikian ceritanya kepada saya.

Saya mengerti secara rasional, bahwa dengan bekerja sama/partnership saya akan jauh lebih cepat berkembang. Namun secara emosional saya tidak nyaman dengan ‘potensial konflik’ yang mungkin terjadi.

Sementara teman saya menganggap bahwa potensial konflik merupakan masalah managemen yang bisa dipecahkan, saya menganggap potensial konflik merupakan pengkhiatan personal.

Teman saya terus saja berpartner, saya memilih berkembang dengan kekuatan sendiri.

Kedua pilihan yang berbeda tadi mengakibatkan hasil yang berbeda. Teman saya berkembang dengan 5 perusahaannya sementara saya masih di Bali saja mengurusi BPRLestari.

And I have to live with that!

Terkait menangani masalah keuangan, menurut saya, seharusnya merupakan prioritas utama. Banyak masalah rumah tangga bubar akibat urusan keuangan yang tidak beres. Suami istri berpisah, saudara bertengkar akibat urusan uang. Mau beribadatpun lebih nyaman jika urusan yang satu itu sudah beres. Jika concernnya adalah berbuat sosial, dengan uang kita bisa lebih bermanfaat terhadap lingkungan. Sejujurnya apapun prioritas hidup kita, urusan uang harus beres dulu.

Walaupun uang bukan segalanya, namun segalanya butuh uang!

Dan kalau kita mau jujur terhadap diri sendiri, bukankah alasan ‘adat’ atau ‘ngayah’ sebenar-benarnya cuma dijadikan alasan untuk menjustifikasi kegagalan atau kemalasan kita.

Jadi silakan kita menentukan sendiri pilihan-pilihan kita. Dan ingat setiap pilihan menentukan hasil. Hasil menentukan akibat. Dan jumlah total akibat-akibat sepanjang rentang hidup kita disebut sebagai takdir.

Sebenar-benarnyalah, kita sendiri yang menentukan takdir kita.

Salam dan semoga bermanfaat.

Download as PDF to PDF Creator | PDF Converter | PDF Software | Create PDF

Apakah orang bali masih bisa bersaing ..???

pertanyaan tentang persaingan kerja

Bapak Alex
Saya sering membaca artikel anda di Bali Post dan saya banyak
belajar dari situ.Saya ingin bertanya,Anda kan sudah lama bekerja dan
berusaha di Bali,tentunya sudah sedikit banyak mengetahui karakter
pekerja orang bali.Saya ingin tahu bagaimana tanggapan Anda mengenai
pekerja orang bali yang mana disatu sisi harus berhadapan dg
persaingan kerja yg semakin ketat sementara disisi lain ada kerja2
adat yg harus dilakukan,mungkin anda sering dengar pekerja orang bali
harus cuti atau minta izin tidak kerja hanya utk kerja adat yg
waktunya berhari-hari. Apakah orang bali masih bisa bersaing dg
kondisi seperti ini?

From:”Bayu Indrajaya”
Email :bayu.indrajaya@gmail.com
(Selengkapnya )

Download as PDF to PDF Creator | PDF Converter | PDF Software | Create PDF

TO BUILD THE GENERATION ‘A NEW’ (2)

Belajar dari Primus.

There is No Short Cut !

Beberapa hari yang lalu saya membaca koran yang salah satu beritanya adalah bahwa Primus, selebriti yang menikah dengan artis Jihan Fahira itu mencalonkan diri menjadi bupati. Bupati daerah mana saya sudah lupa.

Bapak/Ibu sekalian, Primus menjadi bupati adalah contoh yang bagus.

Mengapa demikian?

Primus yang pernah saya lihat fotonya, memiliki tubuh yang bagus. Perut yang six pack.

Tahukah Bapak/ibu sekalian, bahwa untuk membentuk tubuh sebagus itu dan perut serata itu, dibutuhkan tekad, disiplin, kerja keras, diet yang ketat, keringat dan air mata.

Saya sudah belasan tahun mencobanya tidak berhasil-berhasil. Istri saya bilang bukan six pack melainkan five pack, karena walaupun perut bagian atas sudah lumayan, bagian perut bawahnya masih buncit.

Sungguh, bukan sesuatu yang gampang. Membutuhkan kerja keras, membutuhkan dedikasi, membutuhkan proses. Dan tidak ada jalan pintas. Saya ulangi tidak ada jalan pintas.

There is no short cut!

Primus sudah membuktikan dirinya, sebagai pribadi yang mempunyai tekad yang kuat dan bersedia berproses dengan keringat dan air matanya. Seharusnya ketika ia memimpin, ia akan memimpin dengan cara yang sama.

Bapak/Ibu sekalian, kita mempunyai kelemahan mencolok, bahwa kita tidak senang dengan proses. Kita menyukai yang instant. Kita senang mencari-cari jalan pintas.

Mau kaya, korupsi.
Mau jadi pejabat, money politics!
Mau naik pangkat, nyogok!
Mau langsing, sedot lemak!
Mau lulus, nyontek!
Mau jadi sarjana, beli!

Semuanya mau serba instant.

Akibatnya ketika dihadapkan dengan kompetisi global. Kita keteteran.

Coba bayangkan, anak muda Singapore, dengan bahasa Inggris yang fasih, pendidikannya yang tinggi, dan etos kerjanya yang luar biasa, memasuki bursa kerja di Indonesia. Apa kita masih kebagian pekerjaan?

Coba bayangkan akuntan-akuntan dari India yang pintar-pintar dan tidak mahal, berombong-rombong masuk ke Indonesia. Bagaimana kita?

Tidak ada cara lain, jika ingin meningkatkan competitiveness, kita harus belajar dari Primus. Berproses!

Menurut saya, olahraga adalalh merupakan bentuk kehidupan dalam miniatur. Yang saya maksud dengan olahraga bukanlah sekedar jalan santai. Melainkan olahraga kompetisi baik individual maupun team. Olahraga yang membutuhkan penetapan target-target yang terukur, rencana tindakan, konsistensi, dan seterusnya.

Seperti Primus yang menginginkan perutnya six pack.

Di olahraga kompetitif, jelas sekali tidak ada jalur pintas. Semuanya harus berproses, semuanya harus bekerja keras untuk menjadi juara.

Di olahraga kompetitif, kita diajarkan sportif. Menerima kegagalan dengan legawa dan bersiap untuk kompetisi selanjutnya.

Dengarlah komentar Roger Federer ketika dikalahkan oleh Rafael Nadal. Katanya “Saya tidak tampil buruk, namun Nadal luar biasa sekali hari ini. Saya harus mengucapkan selamat kepadanya, namun saya akan kembali ke lapangan, memperbaiki serve saya, dan saya akan mengalahkannya di pertandingan berikutnya”.

Komentar yang sportif, mengaku kalah namun tetap bersemangat.

Bandingkan dengan prilaku para politisi kita yang pada awalnya membuat kesepakatan ‘berani kalah’, namun ketika kalah beneran mengerahkan preman-preman untuk mentetor (Selengkapnya )

Download as PDF to PDF Creator | PDF Converter | PDF Software | Create PDF

TO BUILD THE GENERATION ‘A NEW’ – (1)

“The one who do not read is no better than the one who cannot read”

Bapak/Ibu sekalian, beberapa waktu yang lalu saya mendapat e-mail (oh ya, sekarang artikel Money&You bisa diakses melalui blog saya ………., anda bisa menaruh komentar, kita bisa ngobrol) dari kawan saya Bayu Susila yang sedang tugas belajar di Bangkok. Isinya meminta saya menulis artikel 3-4 halaman tentang ‘bagaimana meningkatkan competitiveness generasi Indonesia muda’.

Saya tidak terbiasa dengan pertanyaan yang dahsyat seperti itu. Biasanya domain saya kan persoalan bisnis, itupun yang kecil-kecil saja. Yang praktis, yang sehari-hari. Ini pertanyaannya ‘meningkatkan competitiveness generasi muda’. Wah berat ! Membutuhkan beberapa hari berkomtemplasi untuk merumuskan apa jawaban yang memadai untuk pertanyaan kawan saya yang pandai itu.

Bapak/Ibu sekalian, berdasarkan pengamatan saya problem terbesar di generasi saya (golongan 90-an, kalau mengacu tahun lulus kuliah), dan juga saya amati terjadi di generasi 2000-an, adalah kita kurang membaca.

Saya lulus kuliah (IP 3,00) cukup memuaskan dengan tidak membaca satupun text book. Saya hanya membaca diktat kuliah. Sarjana diktat ! Sebagian besar teman-teman saya juga begitu.

Mungkin ada satu dua yang membaca, tetapi bisa dikatakan sebagian terbesar mirip-mirip dengan saya.

Bayangkan, saya lulus sarjana, dari universitas terkemuka di Indonesia, tapi tidak pernah baca text book!

Kalau teman-teman saya datang ke Bali, saya selalu kewalahan mengantar kesana kemari. Teman-teman seangkatan saya itu tidak betah tinggal di hotel, walaupun hotelnya adalah salah satu resort terbaik di dunia. Jadi setelah check in, kemudian mengagumi hotelnya sebentar lalu bertanya, ‘terus kita kemana?”. Maunya jalan-jalan terus. Belanja!

Hal ini tidak terjadi dengan tamu-tamu asing. Mereka bisa berhari-hari tinggal di hotel, menikmati fasilitas hotel, berjemur, pijat dan sebagainya tanpa pergi kemana-mana.

Saya cukup bingung melihat fenomena ini, sampai saya kemudian menemukan perbedaannya.

Para turis asing itu rata-rata membawa buku dan membaca! Teman saya tidak bawa buku dan tidak membaca. Jadi kalau bengong terlalu lama di hotel menjadi bosan.

Bapak/Ibu sekalian, generasi saya tidak membaca!

Baru 5 tahun belakangan saya mulai membaca (sebelumnya sudah sering membeli buku tetapi tidak dibaca). Mula-mulanya terpaksa, karena bisnis tidak maju-maju, saya kemudian cari-cari inspirasi. Teman saya Tung Desem Waringin memberikan ‘kado’ sebuah buku judulnya (Selengkapnya )

Download as PDF to PDF Creator | PDF Converter | PDF Software | Create PDF

How to Be A Star Employee – Tips Berkarir (6)

“Menjadi baru Mendapatkan”

Adik ipar saya baru lulus menjadi dokter. Sambil mengambil dinas wajib, dia membuka praktek umum. Pada awal-awal prakteknya dalam seminggu paling-paling menerima 10 pasien saja.

Bandingkan dengan Prof. Hendra, dokternya anak saya. Pagi-pagi saja antrean pasien sudah panjang. Belum ditambah praktek sorenya. Ditambah lagi dengan pasien-pasien di rumah sakit rujukannya.

Apa yang membedakannya? Padahal sama-sama dokter. Sakitnya yang diobati juga kebanyakan flu dan batuk. Obatnya juga mirip-mirip.

Saya menjadi pembicara minta professional fee 15 juta sekali tampil, tidak laku. Tung kawan saya, per 3 jam professional fee-nya 45 juta (sekarang tidak tahu, mungkin sudah naik lagi), orderannya sampai harus nolak-nolak.

Yang dibicarakan juga sama-sama saja. Orang saya satu guru satu ilmu. Mengapa bedanya bumi dan langit.

Bandingkan professional fee penyanyi lokal dengan Agnes Monica! Bambang Pamungkas dengan David Beckham.

Jawabannya saya dapatkan dari kawan saya itu. Tung mengatakan prosesnya adalah ‘menjadi baru mendapatkan’.

Jadi kita jadi dokter terkenal dulu, bagus profesionalitasnya, manjur baru dicari orang. Tung menjadi terkenal dan terbukti manfaatnya, baru bisa mengenakan charge yang mahal. Saya mengenakan charge yang mahal, siapa percaya, mana laku.

Agnes perform dengan bagus dan professional baru tarifnya naik. Dan seterusnya.

Menjadi baru mendapatkan. Bukan sebaliknya.

Banyak keluhan ketika kita bekerja. Seringkali kita dibebani pekerjaan yang banyak, dan semakin banyak, dan semakin banyak.

Keluhannya klasik, “little little to me salary no up up!”.

Sedikit-sedikit saya dikasih kerjaan, salary enggak naik-naik. Begitu kira-kira.

Bapak/Ibu, rekan sekalian, saya mengajak kita memandang bahwa dengan tambahan pekerjaan, berarti kita berkontribusi lebih banyak. Dengan tambahan pekerjaan sebenarnya boss semakin confidence dengan kita. (Selengkapnya )

Download as PDF to PDF Creator | PDF Converter | PDF Software | Create PDF
Next page »

Copyright © 2008 - Money N You :: Bisnis Perbankan Dan Investasi :: Alex P. Chandra : Bisnis, Entepreneurship, Karir, Leadership, Investasi, Motivasi, Perbankan, Tips & Personal Journal | moneynyou@bprlestari.com